Banyak media luar negri, terutama yang berbasis di Inggris dan AS, belakangan ini sempat kesem-sem sama nostalgia perang dingin jamannya Uni Soviet masih exist abad lalu. Saya terus terang sangat senang mendengar, atau membaca, tentang peraduan agen rahasia berbagai kubu di dunia, sambil mencibirkan bibir percaya tidak percaya saat mendengar teori-teori tentang adu pengaruh global, terserah apakah itu bidang militer, ekonomi, kesenian atau main gundu.
Ceritanya, sebuah simbolisasi yang kurang jelas yang dinamakan ‘dunia barat,’ sedang mempertanyakan kredibilitas Rusia yang dianggap terlalu otoriter. Rusia sendiri membalas pantun dengan mengatakan kalau ‘dunia barat’ double standard.
Sebuah hubungan cinta yang terjalin dengan baik selama ini antara Rusia, yang mendeklarasikan diri keluar dari Uni Soviet di penghujung tahun 1991, dengan negara-negara Uni Eropa dan AS, mulai pupus ketika Pabrik Vodka ini mulai perhitungan soal harga jual gasnya ke Eropa. Seperti normalnya realisme orang-orang Eropa Timur pada umumnya, mereka merasa hubungan baik itu perlu, selama masih bisa makan dan tidur cukup. Dalam hal ini jalinan percintaan antara mantan musuh bebuyutan itu mulai retak karena Rusia mulai perhitungan soal apa untungnya terus menjalin hubungan, kalau harga jual gas mereka masih di bawah standard harga pasar.
Ini kejadian lucu. Karena saya baru mengerti, rupanya selama perang dingin, Uni Soviet menjual gas miliknya ke Eropa dengan harga murah. Saya jadi bertanya, kenapa harus ada perang dingin sama supplier yang menjual barangnya kepada anda dengan harga miring?
Tepat! Yang namanya politik itu tidak masuk akal. Seperti halnya cinta. Siapapun pelakunya, akan terperangkap dan membuat diri mereka sendiri kelihatan mirip sekelompok monyet yang saling berebut dahan pohon paling nyaman untuk ditiduri, sambil seenak telunjuk tangan mengatur proses pemetikan dan pembagian buah pisang mereka. Namun kesalahan yang sering kita ulangi adalah hanyutnya kita dalam pergolakan politik yang begitu sampai di telinga kita, sudah termanipulasi berbagai macam kepentingan. Akhirnya kita dituntut untuk lebih selektif dalam menyimpulkan sesuatu. Nah, kemampuan menyimpulkan itu kan berbanding lurus sama mood dan tingkat keletihan kita. Kalau lagi letih atau stress, kita kan menerima kenyataan cenderung lebih pada sisi pahitnya, tuh. Tidak banyak dari kita yang piawai bersemedi atau puasa, jadi kalau lagi letih, ya, salah tanggap deh.
Nah, kebetulan nih. Barak Obama sibuk minta ampun ingin memperbaiki citra politik Paman Sam, terutama kepada sesama warga negaranya sendiri. Dia blak-blakan mengakui keinginannya memperbaiki citra politikus, supaya tidak kelihatan terlalu mirip monyet lah, kira-kira.
Kembali ke panggung perang dingin. Di saat Rusia mulai memaksakan penyesuaian harga gas jualannya dengan cara-cara yang tanpa basa-basi (bisa dibilang unpolite), dan ditengah keributan soal metode bisnis Beruang Merah yang agak-agak prasejarah, terjadilah serentetan pembunuhan atas sejumlah wartawan dan seorang mantan agen KGB yang membelot. Kebetulan juga, Vladimir Putin itu orangnya mempunyai sikap tegas, bermuka dingin dengan senyum menghanyutkan, bertubuh tidak terlalu tinggi tetapi cukup kekar dan jago judo. Karena kambing hitam selalu harus ada, dan karena bau-baunya agak mirip, masyarakat ‘dunia barat’ lalu spontan mengasosiasikan pemimpin Kremlin yang juga mantan KGB itu, dengan rentetan pembunuhan misterius yang terjadi.
Untuk menyambut kejadian ini, Hollywood pun kabarnya telah mengontrak Johnny Depp untuk memerankan Litvinenko dalam sebuah film tentang pembunuhan mantan agen rahasia itu.
‘Dunia barat’ pun mengumumkan kecurigaannya. Kelihatannya, mereka merasa penting untuk melakukan hal itu. Merasa kredibilitasnya dipertanyakan, Putin spontan berpidato keras di sebuah forum keamanan dunia yang diadakan di Munich, Jerman. Dia menuduh ‘barat,’ terutama AS menggunakan double standar dalam mengartikan demokrasi. Gambaran eksplisit yang ditawar Putin disini adalah bahwa seseorang yang biasa menipu, akan sering mencurigai orang lain sebagai penipu juga. Makanya ‘dunia barat’ ini dia cap cepat panik, termasuk saat Iran dan Korea Utara dicurigai terlalu berani bersuara tentang kapasitas nuklirnya.
Lalu muncul lah ketololan standard pemerintah AS yang memang tidak mengerti geografi. Mereka mengira Iran itu ada di Rusia, maka dipasanglah sistim penangkal rudal mereka di negara-negara Eropa Timur. Rusia balik bertanya, kok kalau mau menangkal rudal Iran dan Korea Utara, perangkat kamu dipasang di Polandia dan Republik Ceko? Ketika ditawarkan untuk memasang perangkat tersebut di Azerbaidjan, sebuah negara kaya minyak yang bertetangga dengan Iran dan kebetulan juga mantan republik Uni Soviet, AS menolak karena dianggap terlalu dekat. Jawaban AS ya itu, mencerminkan mereka tidak tau apa-apa tentang geografi. Apakah betulan bodoh, atau pura-pura bodoh, atau Barak Obama memang punya kasus yang pantas dipertimbangkan, tapi saya sih merasa panggung perang dingin ini semakin hari semakin seru. Jadi ada entertainment yang menarik.
Kalau dilihat dari segi cerita maupun narasinya, berita di media asing itu sering lebih seru dari pada nonton film atau baca buku novel dengan tema yang sama. Karena yang ini kita tau bahwa kejadiannya beneran. Makanya, hanya bisa disaingi dengan buku tentang sejarah yang kebetulan ditulis dengan baik, sehingga bisa dibuat dramatis dan mencekam, penuh pelajaran yang tidak hanya praktis, tapi terkadang juga filosofis. Kalau kita beruntung, penulisannya juga bisa puitis.
Saya jadi ikutan kesem-sem sama pemberitaan media-media luar negri itu. Wah, akan ada perang dingin lagi. Tapi kali ini, penjahatnya bukan komunis, tapi kapitalis juga. Komunis-komunis dunia era 1900-an yang perlahan berubah menjadi kapitalis-kapitalis paling bengis. Tengok saja Republik Rakyat Cina. Negeri yang masih menjunjung ide komunisme yang seharusnya buta akan konsep kapital dan permodalan ini, bukannya kelihatan bodoh dalam percaturan ekonomi dunia, tapi justru sebaliknya. Dan luar biasanya lagi, mereka tidak mengincar negara yang lemah secara ekonomi, berapa pun potensinya, untuk dijadikan sasaran mendulang keuntungan, tapi justru mengincar negara dengan perekonomian mapan untuk pelan-pelan dipeloroti secara bisnis. Wah, alur ceritanya menjadi seperti para bajak laut di film Pirates of the Carribean.
Dan sebenarnya, ini kan cerita sehari-hari yang biasa. Ini cerita tentang usaha manusia memenuhi kebutuhannya saat ini maupun di masa depan, dan bagaimana caranya mencapai tujuan tersebut. Ceritanya menawarkan nilai entertainment dengan bungkusan ‘perang dingin’.
Di tempat kita bekerja juga pasti ada politik kantor lengkap dengan kasus-kasus perang dinginnya. Sebetulnya tidak ada salahnya bersopan santun, dan memang ada bunyi yang mirip antara polite dan politics. Tapi kesopan santunan juga bisa dianggap sebagai pencarian muka. Terserah deh, ini kan sudah menyinggung soal budaya. Kodratnya, kita memang diciptakan untuk saling salah paham, layaknya legenda Menara Babel. Termasuk saat kita mencari nafkah.
Saya masih ingat pengalaman bekerja di sebuah institusi yang bertujuan menggapai keuntungan sebanyak-banyaknya melalui investasi waktu (maksudnya kerja, man!) yang efisien, dengan modal yang minim, dalam sebuah suasana kerja yang liberal, namun cukup terpimpin. Yang namanya gosip itu menjadi sesuatu yang tabu, dan politik kantor jadi terkesan sangat tidak penting. Tapi saya juga ingat pengalaman kerja di tempat lain yang sama profit oriented-nya, lebih berani menghumbar investasi uang, namun waktunya habis di meja meeting (maksudnya mengeluarkan uang untuk bisa ngomong doang, man!) Suasana kerjanya penuh tepo seliro, saling hormat menghormati, berjaga ucapan dan terkesan tanpa pimpinan.
Kalau ketemu rekan kerja dari organisasi atau kantor lainnya, apakah itu supplier, partner ataupun customer, saya sering mencoba membaca budaya mereka sambil menghubungkan dengan pengalaman-pengalaman saya sebelumnya. Cukup membantu saya untuk mengambil keputusan, mau jadi kapitalis bertopeng sopan, atau jadi bajak laut yang beruntung.
Betapa kita sering keasikan menikmati nilai entertainment sebuah kejadian, tapi kita lupa kalau sebenarnya semua ini hanya masalah sesuap nasi saja. Monyet, pisang dan sebuah pohon artifisial diatas perahu yang bisa gonta-ganti bendera. Sekali bendera Company, lain kali bendera Bajak Laut. Terserah mood bagaimana.